PROPOSAL PRAKTEK KERJA
LAPANG (PKL)
PEMBIBITAN CABAI RAWIT(CAPSICUM FRUTESCENS
L.)
DI DINAS
PERTANIAN KABUPATEN
SUMENEP
Oleh
:
ABU YAMIN
0925010026
USULAN PRAKTEK KERJA
LAPANG (PKL) SEBAGAI SALAH SATU PANDUAN UNTUK PRAKTEK LANGSUNG DI LAPANG
PROGRAM
STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR
SURABAYA
2012
LEMBAR
PENGESAHAN
JUDUL :
Pembibitan
Cabai Rawit ( Capsicum Frutescens ) di Dinas
Pertanian Kabupaten Sumenep
NAMA : Abu yamin
NPM :
0925010026
PROGRAM
STUDI : Agroteknologi
Menyetujui
Dosen
Pebimbing
DR. IR. WUWUT GUNTORO MSI
NIP. 19620524 199003 1001
NIP. 19620524 199003 1001
Mengetahui
Ketua
Program Studi Agroteknologi
Ir.
Mulyadi, MP.
NIP.
19530503 198503 1001
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufik serta hidayah-Nya kepada
penulis sehingga penulis bisa menyelesaikan usulan Kuliah Kerja Praktek (KKP)
ini. Usulan ini berjudul
“PEMBIBITAN
CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUTESCENS ) DI DINAS PERTANIAN KABUPATEN SUMENEP”
Usulan
praktek kerja lapang ini dapat diselesaikan atas bantuan dan kerjasama berbagai
pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Ir.
Mulyadi, MP. selaku Ketua Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian UPN
“Veteran” Jawa Timur.
2. Dr. Ir.Wuwut Guntoro,MSiselaku
Dosen Pembimbing Praktek Kerja Lapang (PKL).
3. Para
staf kepegawaian Fakultas Pertanian yang telah memfasilitasi dalam pembelajaran
untuk bekal Praktek Kerja Lapang (PKL).
4. Para staf kepegawaian/karyawan Dinas Pertanian di Kabupaten
Sumenep. yang berkenan memfasilitasi penulis
dalam kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini.
5. Orang
tua yang selalu mendukung penulis dalam berbagai hal, khususnya dalam dukungan
material dan spiritual.
6. Teman
– teman yang senantiasa membantu penulis dalam menyelesaikan usulan Praktek
Kerja Lapang (PKL) ini
Semoga usulan Praktek
Kerja Lapang (PKL)
ini dapat bermanfaat sebagai acuan dalam melaksanakan kegiatan Praktek
Kerja Lapang (PKL)
ini.
Surabaya, 31 Januari 2012
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR
BELAKANG
Cabai rawit (capsicum frutescens) mempunyai posisi penting dalam konsumsi makanan masyarakat
kita baik sebagai sayuran maupun bumbu, sehingga ini berpengaruh pada
peningkatan permintaan cabai baik dalam negeri maupun luar negeri. Cabai tahun 2011 kemarin di daerah Sumenep peringkat termahal sepanjang sejarah harga cabai bahkan bertahan sampai hampir dua
bulanan. Kondisi ini amat berpengaruh terhadap permintaan bibit cabai melonjak naik dengan tajamnya.
Seiring tingginya permintaan bibit
cabai di daerah
Sumenep,
hal ini tentu memberi peluang bagi tumbuh kembangnya usaha penangkaran
pembibitan. Di beberapa daerah Madura malah sudah menjadi peluang usaha yang menjanjikan, seperti di wilayah sumenep.
Di daerah lain permintaan bibit pembibitan
hortikultura sekaligus memberikan kemudahan bagi petani untuk memperoleh bibit
dengan hortikultura cabai di kawasan Magelang, ternyata direspon oleh petani untuk
membuka usaha mudah. Di wilayah sentra hortikultura kegiatan pembibitan banyak
dilakukan petani. (Pitoyo, S, 2007).
Dalam
hal pembibitan cabai, ujar Rajimin, sebaiknya dilakukan apabila penyiapan lahan
sudah 70% selesai. Hal ini untuk menghindari dari bibit terlalu tua (terlambat
tanam), selain itu, persiapan media semai terdiri dan tanah, pupuk kandang,
pupuk SP-36 ditambah insektisida furadan. Perbandingan 2 ember tanah + 1 ember
pupuk kandang + 165 gram SP-36 + 75 gram furadan. Untuk pembibitan memakai
polybag ukuran 8 x 10 cm, 6 x 10 cm, untuk penanaman 1 ha dibutuhkan pembibitan
polybag sebanyak 20.000 polybag termasuk cadangan untuk sisipan. Langkah
selanjutnya, ungkapnya, upaya mensterilkan media sesuai dengan fumigan, dimana
Media semai sebaiknya disterilisasi terlebih dahulu dengan menggunakan fumigan
tanah (Basamid G). Tujuannya apabila Basamid G terkena air akan mengeluarkan
gas metil isotiosianat yang dapat membunuhserangga, cendawan, nematoda dan
bakteri serta mematikan benih gulma yang akantumbuh.Dan,selanjutnya, memberiperlakuan
benih agar bebas penyakit.
(Semangun, 1993).
Sebelum benih ditebar di bedengan
/ditanam dalam polybag, papar Rajimin, benih harus diberi perlakuan. Ada dua
cara pemberian perlakukan, dimana pertama dengan perlakuan basah berupa, yakni
sebelum benih disemai terlebih dahulu benih direndam dalam larutan air yang
diberi fungisida dan bakterisida (air 1 ltr + 1,5 ml previcurn + 1,2 gram
Agrimycin) selama 4-6 jam. Kemudian benih dibungkus handuk/koran dibasahi lalu
diperam dalam kaleng biskuit yang diberi lampu 15 watt, selama 3—4 han benih
berkecambah 0,5-1,0 mm dan siap disemaikan.Sedangkan Perlakuan kering, lanjutnya,
sebelum benih disemai terlebih dahulu kemasan dibuka, diberi fungisida Derosol
60 Wp satu sendok dan Agrimycin setiap kemasan benih dan dikocok sampai merata,
kemudian benih siap disemai.(Mashud, E.2004).
1.2.
TUJUAN
1. Menambah pengalaman dan keterampilan dalam melakukan pembibitan di
bidang tanaman cabai rawit (capsicum frutescena).
2. Mempelajari serta melakukan langsung praktek pembibitan cabai raqwit.
3. Bertukar ilmu yang telah didapat dibangku kuliah dengan pengalaman para
karyawan instansi (Dinas pertanian kabupaten sumenep)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. NAMA
TANAMAN CABAI RAWIT ( CAPSICUM
FRUTESCENS)
Latin : Capsicum
frutescens
Inggris : Pepper
Melayu : cabe
Madura : cabhi
2.2.KLASIFIKASI
Kingdom : Plantarum
Kingdom : Plantarum
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Klas : Dicotyledoneae
Sub Klas : Sympetalae
Ordo : Tubiflorae (Solanales)
Famili : Sonalaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annum L.
Sub Divisi : Angiospermae
Klas : Dicotyledoneae
Sub Klas : Sympetalae
Ordo : Tubiflorae (Solanales)
Famili : Sonalaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annum L.
2.3.
TANAMAN CABAI RAWIT (capsicum frutescens)
Cabai rawit (capsicum frutescens)
termasuk tanaman yang mudah di tanam dimana saja, baik di dataran tinggi maupun
rendah, tanpa banyak perawatan. Tanaman cabai rawit termasuk yang berumur
paling panjang, bisa mencapai tahunan. Cabai rawit termasuk tanaman dikutil
(biji berkeping dua) dan berakar tunggang. Akarnya menyebar hingga sejauh 40
cm, tetapi dangkal. Akar-akar rambut banyak berada di permukaan. Akar-akar
mendatarnya cepat berkembang, menyebar dengan kedalaman 15 cm. ujung akar
tunggang dapat menembus tanah hingga kedalaman 50 cm.
Batang
tanaman berbentuk bulat, tegak dengan tinggi 50-150 cm. Batang hanya sedikit
mengandung zat kayu sehingga tidak kuat berdiri tegak saat lebat buahnya.
Daun
cabai rawit berwarna hijau, ukuran daun termasuk kecil dan berbulu halus pada
permukaannya. Bentuk daun menyerupai hati yang beruncing pada ujungnya. Panjang
daun sekitar 4-6 cm dan lebar 2-3 cm.
Bunga
berdiri tegak pada ketiak daun,berwarna putih bersih,berbentuk bintang. Satu
kuntum bunga terdiri dari 5-6 helai kelopak bunga.pada setiap ketiak daun
umumnya tumbuh dua tangkai buna. Setelah mekar penuh, bunga cabai rawit
berukuran lebar sekitar 1,5 cm.setelah terjadi pembuahan bungan akan layu dan
kebanyakan hanya 1 bunga yang menjadi buah.
Buah
cabai rawit memiliki ukuran sekisar antara 1-4 cm dengan lebar 0,5-1,2 cm. buah
cabai mengandung oleoresin yang pedas rasanya. Setiap buah berisi banyak biji.
Biji cabai berkeping dua (dikotil) dan berfungsi sebagai alat perkembangbiakan
tanaman secara generative. (Prajnata, F. 1998.)
2.4 . SYARAT PERTUMBUHAN
2. 4.1 Iklim
Cabai
rawit merupakan tanaman yang mudah beradaptasi dengan lingkungan di daerah
tropis,baik ketinggian tempat maupun
keadaan tanah. Oleh karena itu, cabai rawit dapat di kembangkan hamper
di seluruh kawasan nusantara. Tanaman ini dapat tumbuh dan berpruduksi dengan
baik di dataran rendah, menengah, dataran tinggi. Ketinggian lokasi yang paling
baik untuk tanaman cabai adalah antara 200-700 meter di atas permukaan
laut(dpl).
Namun
tanaman cabai mempunyai persyaratan khusus dalam hal suhu udara. Pertumbuhan
cabai akan terhambat jika suhu udara di bawa 16ºC. Demikian pula jika suhu
lokasi di atas 32º C, proses pembungaan cabai akan gagal dan bunga akan rontok.(Prihmantoro,
H. 1995.)
2.4.2 Kelembaban
Kesuburan tanah mempunyai peran penting dalam
penanaman cabai rawit. Di samping sebagai penopang berdirinya tanaman, tanah
juga berfungsi sebagai penyediaan makanan,air, dan udara untuk pernafasan akar.
Tanah yang basah tetapi tidak tergenang air, berpasir, subur, dan kaya akan
bahan organic sangat cocok untuk pertumbuhan tanaman cabai. Syarat lainnya.
Tanah harus memiliki aerasi dan drainase yang baik.
Tanaman
cabai rawit selain membutuhkan air juga juga membutuhkan sinar matahari yang
cukup. Maka lokasi yang tepat untuk tanaman cabai adalah lokasi yang terbuka,
cukup kandungan airnya, subur, dan mempunyai penyerapan air cukup baik.oleh
sebab itu pembibitan tanaman cabai dala polibag sebaiknya di tempatkan di
tempat terbuka agar memproleh sinar matahari yang memadai, terutama sinar
matahari pagi.
Derajat keasaman
(pH) tanah yang paling tepat untuk tanaman cabai rawit berkisar antara 5-7.
Apabila pH kemampuan penyerapan beberapa unsur hara berkurang.miskipun tanaman dapat
hidup, tetapi produksi buahnya terganggu.demikian juga bila pH tanah terlalu
tinggi, di atas 7, tanaman akan kerdil karena kekurangan zat besi.
.( Prihmantoro,
H.1995)
2. 4.3
Media Tanam
Media tanam murupakan tempat hidup dan
tumbuhnya tanaman. Media tanam dapat berupa tanah, pasir, sabut, arang, dan sebagainya. Untuk pembibitan
tanaman cabai penulis menggunakan tanah sebagai media tanam utama. Untuk
menyuburkan dan memperbaiki kualitasnya, dan mencampurkan pupuk organic padat
(kompos atau kandang) sekam atau arang sekam. Media tanam yang akan diisikan ke
bedengan/dalam polibag harus telah memenuhi syarat kebutuha hidup tanaman.
Yakni, harus cukup gembur, mengandung unsure hara dan bebas dari hama dan
penyakit. Karena kondisi tanah di setiap tempat sering kali tidak sama,tanah
perlu diolah sehingga di proleh campuran yang baik sebagai media tanam.
Kondisi pH media tanam juga harus
memenuhi syarat untuk pertumbuhan tanaman cabai rawit, yaitu pada kisaran 5-7.
Jika pH media dibawah 5, tambahkan kapur dolomite atau kalsit. Jumlahnya di
sesuaikan dengan kondisi pH tanah. Sebaliknya, jika pH media tanam diatas 7,
netralkan dengan belerang. Derajat keasaman (pH) tanah dapat di periksa dengan
alat pH-meter.namun untuk memudahkan, bila mengambil tanah untuk media tanam,
pilih saja tanah yang di tumbuhi tanaman dengan baik. (Haryato. 1998)
2. 4.4
Ketinggian Tempat
Cabai rawit mampu beradaptasi dengan baik di dataran
rendah maupun tinggi. Ketinggian
yang optimal 400-800
m dpl.(Mashud, E.
2004)
2.5 PEMBIBITAN
2.5.1 Persyaratan Benih
Benih yang dipergunakan untuk
pembibitan hendak memenuhi kriteria teknis agar nanti dapat menghasilkan bibit
yang baik dan bila nanti ditanam di lapangan dapat menghasilkan buah yang baik
serta produksinya tinggi. Benih yang digunakan petani biasanya berasal dari dua
yaitu benih produksi sendiri dan beli di toko pertanian sesuai varietas yang
diinginkan. Bila petani menggunakan benih sendiri atau mengambil dari lapangan
hendaknya memperhatikan beberapa persyaratan benih yang layak digunakan untuk
pembibitan agar nantinya bibit akan tumbuh baik dan dapat berproduksi tinggi,
ada beberapa syarat teknis yang mesti kita perhatikan antara lain : benih bebas
hama penyakit, biji bernas/ aus, tidak keriput, daya tumbuh 90%, kemurnian
terjamin, biji berwarna kuning bersih hampir mirip warna buah padi. Sedangkan bila
benih dari pabrikan kita tinggal cek deskrefsi varietas yang ada sesuai jenis
dan perhatikan masa berlaku benih atau tanggal kadaluarsa. (Prihmantoro,
H.1995)
2. 5.2 Penyiapan Benih
Pilihlah benih cabai rawit yang
berkualitas, sehat, memiliki daya kecambah tinggi, dan berasal dari varietas
unggul. Benih tersebut dapat di beli di took pertanian dalam kemasan sachet atau dapat juga di peroleh dengan
mengusahakan sendiri dari biji buah cabai rawit yang berukuran besar, masak
optimal( berwarna merah ),dan sehat.belah buah cabai untuk di ambil bijinya.
Terus dijemur biji terlebih dahulu hingga kering. (Haryato. 1998)
2. 5.3 Teknik
Penyemaian Benih
Pembibitan
Langkah membuat penyemaian/pembibitan adalah : Persiapan lokasi pesemaiannya
dengan syarat lokasi strategis mudah diawasi dekat sumber air, lokasi
terbuka.
Persiapan pnyemaian
Siapkan
bahan-bahan media semai seperti tanah, pupuk kandang matang,dan pupuk TSP atau
SP-36 dengan perbandingan 2 bagian tanah, 1bagian pupuk kandang, dan pupuk TSP
atau SP-36 secukupnya.selain itu , siapkan insektisida karbofuran(furadan,
curater, atau petrofur). Tanah dan pupuk kandang di campur dengan perbandingan
setiap 3 ember adonan tanah dan pupuk di tambahkan 100 g insektisida karbofuran
dan 100 g pupuk TSP atau SP-36 pupuk tersebut dapat diganti dengab npk sebanyak
80 g per tiga adonan tersebut. Campurkan bahan-bahan tersebut secara merata.
Masukkan media semai kedalam polibag plastic yang berukuran 8x9 cm hingga sebanyak90%
penuh.tata polbag tadi di atas bangunan persemaian setengah lingkaran yang di
tutup plasti bening sebagai pelindung
panas dan hujan. Semaikan benih bila memang telah mendapatkan perlakuan benih
(warna merah muda) seandainya belum benih perlu di rendam ke dalam larutan
fungisida previcur N dengan konsentrasi 2-3 ml/l air selama 4-6 jam. Setelah
perendaman, benih siap di semaikan.setiap polibag berisi satu benih.( Pitoyo,
S. 2007)
BAB III
METODOLOGI
3.1.WAKTU DAN TEMPAT
Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini
dilakukan pada 09 - 29
Februari 2012.Praktek Kerja Lapang (PKL) ini bertempat di Dinas Pertanian Kabupaten
Sumenep.
3.2.METODE KAJIAN
Kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) ini
yang akan dilaksanakan di Tempat PKL diatas dengan metode sebagai berikut:
1. Pengenalan
tempat/instansi secara umum di Dinas
pertanian Kab. Sumenep
Tujuan
dari pengenalan tempat tersebut supaya penulis dapat mengenal secara umum
keadaan tempat yang dijadikan tempat Praktek Kerja Lapang (PKL), pengenalan
dilakukan pada awal/minggu pertama penulis datang ke tempat tujuan.
2. Praktek
langsung dilapang yaitu meliputi:
a). Pemilihan
tanaman induk
Syarat
tanaman induk, tanaman induk di pilih tanaman
yang sehat danberproduksi tinggi,tidak terserang hama dan penyakit.
b). Seleksi buah/cabai rawit untuk bibit
Benih yang akan di bibitkan di pilih benih yang
matang dan sehat, dengan warna merah tidak ada tanda gejala
apapun.
c). Persiapan pembibitan
§ Pengolahan
media
Menyiapkan bahan-bahan media semai seperti tanah,
pupuk kandang matang,dan pupuk TSP atau SP-36 dengan perbandingan 2 bagian
tanah, 1bagian pupuk kandang, dan pupuk TSP atau SP-36 secukupnya.selain itu ,
siapkan insektisida karbofuran(furadan, curater, atau petrofur). Tanah dan
pupuk kandang di campur dengan perbandingan setiap 3 ember adonan tanah dan
pupuk di tambahkan 100 g insektisida karbofuran dan 100 g pupuk TSP atau SP-36
pupuk tersebut dapat diganti dengab npk sebanyak 80 g per tiga adonan tersebut.
Campurkan bahan-bahan tersebut secara merata. Masukkan media semai kedalam
polibag plastic atau bedengan. Semaikan benih bila memang telah mendapatkan
perlakuan benih (warna merah muda) seandainya belum benih perlu di rendam ke
dalam larutan fungisida previcur N dengan konsentrasi 2-3 Perlakuan
buah yang akan di jadikan bibit. (Mashud,
E. 2004.0
d). penyemaian benih cabai rawit
Tebarkan benih ke persemaian yang
telah diisi media semai.
e). Pemeliharaan bibit,
Pemeliharaan
saat persemaian,
meliputi:
1.
Penyiraman,
dilakukan dengan rutin
1-2 kali sehari pagi hari sebelum pukul 09.00 dan sore hari sesuda jam 15.00,
tergantung keadaan cuaca.
2.
Pembersihan
rumput-rumputan untuk mencegah adanya inang hama dan dan penyakit.
Pemeliharaan
pada saat pembibitan, yaitu:
1.
Penyiraman,
dilakukan sampai jenuh, Kebutuhan penyiraman per hari, tergantung pada umur
bibit.
2.
Proteksi,
dengan pemberian insektisida atau fungisida dengan dosis rata-rata 0,8 ml/l,dan disemprotkan pada tanaman sampai basah dan merata.
3. Penyiangan gulma, dilakukan setiap satu bulan sekali, dengan
mekanis maupun
herbisida.
3.
Pemupukan,
yaitu pupuk yang
penulis gunakan untuk tanaman cabai rawit dalam polibag adalah pupuk organic
cair dan pupuk daun anorganik.dosis pengenceran berkisar antara 1-5 ml per 1
liter air, tergantung tingkat kesuburan media tanam.
4.
Seleksi bibit,
meliputi: memisahkan tanaman yang kerdil, terkena penyakit dan hama dan
dilakukan terus menerussetelah
tumbuh berumur 1 minggu
5. Pengamatan
dan pengumpulan data tanaman yang
sudah di lakukan pembibitan
f.
pencabutan/ pemindahan bibit ke lapang
Dipindahkan dalam bentuk bibit cabutan yang dibongkar dari
persemaian bibit. Umur bibit sewaktu pemindahan telah mencapai 21-30 hari. Pemindahan harus hati-hati dan dijaga akar dalam keadan utuh.
g. Wawancara
dan Studi Pustaka
Wawancara
dan diskusi ini dilakukan di bawah bimbingan dosen pembimbing. Sedangkan studi
pustaka bisa didapatkan dari buku – buku atau literatur dilapangan, , hal
tersebut untuk pelengkap data dalam laporan akhir.
3.3.JADWAL PELAKSANAAN
|
NO.
|
MINGGU KE.
|
KEGIATAN
|
||||
|
1
|
2
|
3
|
||||
|
1.
|
|
|
|
Pengenalan
instansi
|
||
|
2.
|
|
|
|
Pemilihan
pohon induk
|
||
|
3.
|
|
|
|
Penyeleksian
buah untuk bibit
|
||
|
4.
|
|
|
|
|
Pembibitan
-
pengolahan tanah
-
perlakuan buah yang di jadikan bibit
|
|
|
5.
|
|
|
|
|
Pembibitan
|
|
|
6.
|
|
|
|
Pemeliharaan
dan pengamatan
-
penyiraman
-
pembersihan rumput-rumputan
|
||
DAFTAR PUSTAKA
Prajnata, F. 1998. Mengatasi
Permasalahan Bertanam Cabai. Penebaran Swadaya, Jakarta - 88 hal.
Haryato. 1998. Bertanam
Cabai Rawit Dalam Pot.Kanisius, Jakarta – 48 hal.
Semangun. 1993. Penyedian
Bibit Cabai Rawit di Polibag, Kanisius. Bandung – 53 hal.
Pitoyo, S. 2007. Teknik
Budidaya Tanaman Cabai Di Polybag. Sinar Baru,jakarta
– 61 hal.
Prihmantoro, H.1995. Bertanam Cabai Pada Musim Kemarau. Kanisius.Yogyakarta – 74 hal.
Mashud, E. 2004. Pembibitan
Cabai Berkualitas. Sinar Baru, Jakarta – 72 hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar